Dr H Shobahussurur MA
Sahabat Rasulullah SAW, Hudzaifah r.a mensinyalir bahwa hal pertama yang akan lenyap dari agama Islam adalah khusyu’, sedangkan yang terakhir adalah shalat. Kelak akan banyak orang yang mengerjakan shalat, tapi tidak memperoleh kebaikan di dalamnya. Kamu hampir tidak menemukan seorangpun yang melaksanakan shalat dengan khusyu’ ketika masuk ke dalam masjid.
Hudzaifah r.a. selanjutnya berkata: “Hindarilah olehmu khusyu’ munafiq, yaitu kamu melihat tubuh seseorang dalam keadaan khusyu’ tapi hatinya tidak”. Fudhail bin Iyadh menambahkan: “Sangat dibenci ketika seseorang kelihatan khusyu’, padahal hatinya tidak demikian. Ketika ada seseorang yang kedua pundak dan badannya kelihatan khusyu’, maka dikatakan kepadanya: “Hai Fulan, khusyu’ ada di sini sambil menunjuk dadanya dan bukan disini sambil menunjuk kedua pundaknya”. (Ibn Qayyim, Madârij al-Sâlikîn, 1/521).
Ibn Taimiyyah menjelaskan bahwa khusyu’ dalam shalat dapat timbul karena dua hal, yaitu: 1)- karena keinginan yang kuat, dan 2)- kemampuan mengatasi rintangan. Keinginan kuat dimaksudkan kesungguhan seseorang dalam merenungkan, memahami, dan menghayati ucapan dan bacaan dalam shalat, dengan keyakinan bahwa dia saat shalat itu sedang berkomunikasi dengan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah tentang makna al-ihsân: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya, dan jika Engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (H.R. al-Bukhârî). Kemampuan mengatasi rintangan maksudnya adalah tekad yang kuat untuk menolak segala hal yang dapat melalaikan hati dari tafakur dan berzikir kepada Allah selama menunaikan shalat. Menghindarkan perasaan was-was (keraguan) dalam shalat karena gangguan nafsu syahwat. (Ibn Taimiyyah, Majmû’ al-Fatâwâ, 22/606-607).
Oleh karena itu dalam rangka menghadirkan khusyu’ dalam shalat diperlukan usaha-usaha, antara lain:
1. Melakukan persiapan awal sebelum mendirikan shalat, dengan terlebih dahulu menghayati lafadz Azan yang dikumandangkan oleh muazin, lalu mengikutinya dengan doa. Kemudian mensucikan diri dari hadats kecil dan besar, lengkap dengan melakukan rukun dan sunnahnya. Menggunakan pakaian yang suci dan bersih dengan memperhatikan bahwa pakaian yang dipakai itu didapatkan dari cara-cara yang halal, menutup aurat, membersihkan tempat shalat, menuju ke masjid dengan tenang sambil berzikir dan berdoa, meluruskan dan merapikan barisan, serta mengkondisikan suasana di masjid itu tenang dan aman.
2. Melakukan gerakan-gerakan dalam shalat secara thuma’nînah (tenang), baik ketika berdiri, ruku’, sujud, bangun dari sujud, dan begitu seterusnya. Sabda Nabi Saw.: “Tidak sempurna shalat salah satu di antara kalian, sehingga dia melakukan gerakan-gerakan shalat secara thuma’nînah (tenang). H.R. Abu Daud. Nabi memberi perumpamaan orang yang shalat tanpa thuma’nînah itu ibarat pencuri yang mencuri shalatnya, mencuri ruku’ dan sujudnya karena tidak menyempurnakannya.
3. Mengingat kematian di dalam shalat. Rasulullah berpesan kepada Abi Ayyub r.a.: “Apabila kamu berdiri untuk melaksanakan shalat, maka shalatlah seperti orang yang pamitan (pergi tak kembali). H.R Ahmad. Dalam hadits riwayat Ibn Hajar, Rasulullah bersabda: “Ingatlah akan kematian dalam shalatmu, karena jika seorang mengingat kematian dalam shalatnya niscaya akan menyempurnakan pelaksanaan shalatnya. Hendaknya kamu melaksanakan shalat seperti shalatnya orang yang tidak yakin akan dapat melaksanakaan shalat lagi”. Dengan begitu seseorang akan melakukan shalat dengan khusyu’ karena shalat yang sekarang dilakukan diyakini sebagai shalat terakhir, tidak tahu apakah shalat berikut dapat dilakukan karena kematian telah menjemputnya.
4. Merenungi dan menghayati ayat-ayat dan zikir yang sedang dibaca, yaitu dengan cara mengetahui arti dan makna dari ayat, zikir atau doa yang dibaca. Ada sebuah riwayat dari Hudzaifah r.a., bagaimana Rasulullah menghayati ayat-ayat dan doa yang dibaca dalam shalat. Bahwa pada suatu malam ketika Rasulullah melaksanakan shalat, maka beliau membaca al-Quran sambil menguaraikannya (membaca pelan-pelan sambil menghayati maknanya). Bila dalam ayat yang dibaca itu ada kata-kata yang mengandung tasbîh (memahasucikan Allah), maka beliau pun bertasbih. Bila ada kalimat Tanya, beliaupun bertanya. Bila ada kalimat yang mengandung makna ta’awudz (memohon perlindungan), maka beliaupun memohon perlindungan”. H.R. Muslim. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa pada suatu malam ketika melakukan shalat beliau tidak henti-hentinya menangis. Bilal bertanya: Ya Rasulullah, mengapa Engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu ataupun yang akan dating ?. Beliau menjawab: “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur?. Sesungguhnya pada malam ini telah diturunkan kepadaku ayat-ayat yang menunjukkan kecelakaan bagi orang-orang yang membacanya tetapi tidak merenungi dan menghayati isinya”. H.R. Ibn Hibbân.
5. Membaca ayat-ayat dan doa secara tartil (Q.S. al-Muzammil/73: 4), dimaksudkan agar orang yang melakukan shalat membaca ayat-ayat secara perlahan sambil bertafakkur memahami isinya, memperbagus suara agarlebih khusyu’. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling indah suaranya dalam membaca al-Quran adalah orang yang apabila kamu mendengarnya membaca, kamu memandang dia karena taku kepada Allah. H.R. Ibn Mâjah.
6. Yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa, zikir dan shalat kita. Kita meyakini bahwa kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Apa yang kita baca, permohonan yang kita panjatkan didengar langsung oleh Allah. Maka kita tidak pernah lalai ketika berhadapan dengan-Nya. Raslullah bersabda: Sesungguhnya salah seorang di antara kamu, apabila mendirikan shalat, pada hakikatnya dia sedang bermunajat (memohon kepada Allah). Oleh karena itu hendaklah dia memperhatikan bagaimana cara dia bermunajat kepada Tuhannya”. H.R. Hakim.
7. Melakukan gerakan-gerakan shalat sesuai dengan tuntunan yang disyariahkan. Ketika takbir, meletakkan kedua tangan, rujuk, sujud, duduk dan seterunya dilakukan sesuai dengan tuntunan. Tidak membuat cara-cara sendiri, sehingga akhirnya menyalahi tuntunan Rasulullah Saw.
8. Menundukkan pandangan ke arah tempat sujud. Untuk menambah kekhusyu’an, maka orang yang shalat pandangannya hendaknya terpusat pada satu titik, yaitu tempat sujud. Tidak menoleh ke sana kemari, ke atas atau ke kiri kanan. Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw apabila mendirkan shalat, beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. H.R. Hakim. Pada waktu duduk tasyahud, beliau memberi isyarat dengan telunjuknya disertai dengan mengarahkan pandangannya kepada isyarat tersebut. H.R. Ahmad.
9. Tidak mengerjakan shalat ketika makanan siap saji. Rasulullah bersabda: “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan” (H.R. Muslim). Hal itu dapat dipahami, karena orang yang shalat akan terganggu ingatannya menuju makanan yang dihidangkan itu.
10. Tidak mengerjakan shalat dalam keadaan menahan kentut, buang air kecil atau besar. H.R. Abu Daud menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. menyuruh buang air dulu sebelum melakukan shalat. Bahkan andaikata pada saat shalat keinginan buang hajat itu muncul, maka hendaknya membatalkan shalatnya untuk segera buang air. Sabda Nabi Saw: Tidak ada shalat di hadapan makanan, dan tidak ada pula ketika berkeinginan buang air kecil atau besar”. H.R. Muslim.
11. Tidak mengerjakan shalat ketika mengantuk. Rasulullah bersabda: Apabila seorang di antara kamu mengantuk ketika mengerjakan shalat, hendaknya dia tidur dulu sehingga mengerti apa yang diucapkan. H.R. al-Bukhari. Hal itu terjadi biasanya pada waktu shalat malam atau shalat Shubuh. Khusyu’ tentu tidak dapat diraih ketika kantuk itu datang.
12. Tidak melakukan gerakan-gerakan diluar gerakan yang diajarkan dalam shalat, umpamanya merapikan pakaian, tempat shalat, mengaruk-garuk badan, menguap, meludah pada waktu shalat. Rasulullah bersabda: Janganlah kamu meratakan (membersihkan) tanah tempat sujud ketika shalat, namun jika mesti dikerjakan maka cukup satu kali saja”. H.R. Abu Daud. Juga kegiatan-kegiatan lain diluar gerakan shalat hendaknya dihindari, agar dapat berkonsentrasi pada bacaan-bacaan shalat.
Marilah kita belajar khusyu’ dalam shalat sehingga shalat kita memberikan arti bagi kita dan orang lain. Jangan sampai shalat kita hanya sekedar menjadi kegiatan rutin tak bermakna yang membebani setiap pelakunya. “Sesungguhnya shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (Q.S. al-Baqarah/2: 45). Mari kita jadikan shalat sebagai kegiatan rutin yang kita cintai, senang melaksanakannya, menghayati kandungannya, dan membawa pengaruh positif bagi kehidupan kita. Kita berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyu’, lalai dalam shalat, dan sia-sia saja apa kita kerjakan. Naûdzu billâh.
*) Dr. H. Shobahussurur, M.A.; Ketua Takmir Masjid Agung Al Azhar
Friday, September 05, 2008
Contoh Tauladan
Dibalik Kehidupan insan
bernama: "Muhammad"
Kalau ada pakaian yang koyak,
Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.
Beliau juga memerah susu kambing
untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah,
bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan,
sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya
untuk membantu isterinya di dapur.
Sayidatina 'Aisyah menceritakan:
"Kalau Nabi berada di rumah,
beliau selalu membantu urusan rumahtangga.
Jika mendengar azan,
beliau cepat-cepat berangkat ke masjid,
dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang."
Pernah baginda pulang pada waktu pagi.
Tentulah baginda amat lapar waktu itu.
Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan.
Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
"Belum ada sarapan ya Khumaira?"
(Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan' )
Aisyah menjawab dengan agak serba salah,
"Belum ada apa-apa wahai Rasulullah."
Rasulullah lantas berkata,
"Kalau begitu aku puasa saja hari ini."
tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.
Pernah baginda bersabda,
"sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai
kepala keluarga.
Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.
Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu
langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
"Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?"
"Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar"
"Ya Rasulullah.. . mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?
Kami yakin engkau sedang sakit..."
desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.
Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
"Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?"
Lalu baginda menjawab dengan lembut,
"Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?" "Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak."
Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan
di sebelah seorang tua
yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Hanya diam dan bersabar
bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan
baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid
sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt
dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw
menolak sama sekali rasa ketuanan.
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH
tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain,
ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.
Ketika pintu Syurga telah terbuka,
seluas-luasnya untuk baginda,
baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,
terus-menerus beribadah,
hingga pernah baginda terjatuh,
lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.
Fisiknya sudah tidak mampu menanggung
kemahuan jiwanya yang tinggi.
ila ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?"
Jawab baginda dengan lunak,
"Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."
Rasulullah s. a. w. bersabda,
"Sampaikan pesanku walau sepotong ayat"
bernama: "Muhammad"
Kalau ada pakaian yang koyak,
Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya.
Beliau juga memerah susu kambing
untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah,
bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan,
sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya
untuk membantu isterinya di dapur.
Sayidatina 'Aisyah menceritakan:
"Kalau Nabi berada di rumah,
beliau selalu membantu urusan rumahtangga.
Jika mendengar azan,
beliau cepat-cepat berangkat ke masjid,
dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang."
Pernah baginda pulang pada waktu pagi.
Tentulah baginda amat lapar waktu itu.
Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan.
Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
"Belum ada sarapan ya Khumaira?"
(Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang kemerah-merahan' )
Aisyah menjawab dengan agak serba salah,
"Belum ada apa-apa wahai Rasulullah."
Rasulullah lantas berkata,
"Kalau begitu aku puasa saja hari ini."
tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.
Pernah baginda bersabda,
"sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya."
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai
kepala keluarga.
Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.
Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu
langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
"Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?"
"Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar"
"Ya Rasulullah.. . mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?
Kami yakin engkau sedang sakit..."
desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.
Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
"Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?"
Lalu baginda menjawab dengan lembut,
"Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?" "Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak."
Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan
di sebelah seorang tua
yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Hanya diam dan bersabar
bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan
baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid
sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt
dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw
menolak sama sekali rasa ketuanan.
Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH
tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain,
ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.
Ketika pintu Syurga telah terbuka,
seluas-luasnya untuk baginda,
baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,
terus-menerus beribadah,
hingga pernah baginda terjatuh,
lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.
Fisiknya sudah tidak mampu menanggung
kemahuan jiwanya yang tinggi.
ila ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?"
Jawab baginda dengan lunak,
"Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur."
Rasulullah s. a. w. bersabda,
"Sampaikan pesanku walau sepotong ayat"
Tuesday, August 26, 2008
Pengemis Buta dan Rasulullah SAW
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, ” Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni
Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,”Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab,”Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana,” kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada
pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”
Abubakar RA menjawab,”Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.
”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.”
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,
”Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun,
ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni
Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,”Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab,”Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
Apakah Itu?, tanya Abubakar RA.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana,” kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada
pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya.
Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”
Abubakar RA menjawab,”Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).” “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.
”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.”
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,
”Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun,
ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Thursday, November 23, 2006
KEBAHAGIAAN
"Kebahagiaan Terletak Pada Bagaimana kita membatasi keinginan, bukan berdasarkan kepada apa yang ingin kita raih"
Kutipan tersebut mengingatkan kepada kita bahwa untuk meraih kebahagiaan tidaklah harus dengan meraih semua keinginan yang akan kita raih. Kebahagiaan bukan terletak dari harta yang kita punya. Tapi kebahagiaan terletak pada bagaimana kita membatasi keinginan-keinginan yang timbul dalam diri kita. Sebagai manusia, sudah sewajarnya dan sepantasnya kita menginginkan rumah bagus, mobil mewah atau jabatan yang tinggi. Namun apakah jika kita sudah meraih itu semua dapat menjamin kebahagiaan akan datang ??
Belum tentu, banyak kita dengar orang yang mempunyai banyak harta dan tinggal ditempat yang super mewah namun mereka tidak bahagia akan hartanya tersebut, hatinya merasa kosong dan hidupnya tidak tenang.
Kutipan tersebut mengingatkan kepada kita bahwa untuk meraih kebahagiaan tidaklah harus dengan meraih semua keinginan yang akan kita raih. Kebahagiaan bukan terletak dari harta yang kita punya. Tapi kebahagiaan terletak pada bagaimana kita membatasi keinginan-keinginan yang timbul dalam diri kita. Sebagai manusia, sudah sewajarnya dan sepantasnya kita menginginkan rumah bagus, mobil mewah atau jabatan yang tinggi. Namun apakah jika kita sudah meraih itu semua dapat menjamin kebahagiaan akan datang ??
Belum tentu, banyak kita dengar orang yang mempunyai banyak harta dan tinggal ditempat yang super mewah namun mereka tidak bahagia akan hartanya tersebut, hatinya merasa kosong dan hidupnya tidak tenang.
Monday, October 02, 2006
Jangan Berlambat-lambat Saat Harus Bertindak Cepat
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: tiadalah seseorang berjalan untuk menuntut ilmu kecuali dimudahkan Allah jalannya menuju surga dan barang siapa yang diperlambat amalnya tidak akan dipercepat keturunannya. (HR. Abu Dawud)
Tuesday, September 26, 2006
SENYUM
Manis wajahmu kulihat disana..
Apa rahsia yang tersirat..
Tapi zahirnya dapat kulihat..
Mesra wajahmu dengan senyuman
Senyuman ...senyuman...
Senyum tanda mesra..
Senyum tanda sayang..
Senyumlah sedekah yang paling mudah
Senyum di waktu susah..
Tanda ketabahan...
Senyuman itu tanda keimanan..
Senyumlah...
Senyumlah seperti Rasullullah..
Senyumnya bersinar dengan cahaya...
Senyumlah kita hanya kerana Allah..
Itulah senyuman bersedekah..
Senyumlah...
Itulah sedekah yang paling mudah...
Tiada terasa terhutang budi..
Ikat persahabatan antara kita..
Tapi senyum jangan disalah guna..
Sumber: Ita (Costing)
Apa rahsia yang tersirat..
Tapi zahirnya dapat kulihat..
Mesra wajahmu dengan senyuman
Senyuman ...senyuman...
Senyum tanda mesra..
Senyum tanda sayang..
Senyumlah sedekah yang paling mudah
Senyum di waktu susah..
Tanda ketabahan...
Senyuman itu tanda keimanan..
Senyumlah...
Senyumlah seperti Rasullullah..
Senyumnya bersinar dengan cahaya...
Senyumlah kita hanya kerana Allah..
Itulah senyuman bersedekah..
Senyumlah...
Itulah sedekah yang paling mudah...
Tiada terasa terhutang budi..
Ikat persahabatan antara kita..
Tapi senyum jangan disalah guna..
Sumber: Ita (Costing)
Bersedekah yuk..!!
Diceritakan, ketika Nabi Ayub AS sedang mandi tiba-tiba Allah SWT mendatangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya.
Baginda menepis-nepis lengan bajunya agar belalang jatuh.
Lantas Allah SWT berfirman, ''Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?''
Nabi Ayub AS menjawab, ''Ya benar, wahai Sang Pencipta! Demi keagungan-Mu apalah makna kekayaan tanpa keberkahan-Mu.'' Kisah di atas menegaskan betapa pentingnya keberkahan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Kekayaan tidak akan membawa arti tanpa ada keberkahan. Dengan adanya keberkahan, harta dan rezeki yang sedikit akan bisa terasakan mencukupi. Sebaliknya, tanpa keberkahan rezeki yang meskipun banyak akan terasakan sempit dan menyusahkan.
Agar rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah.
Rasulullah SAW bersabda, ''Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.''
Dalam hadis lain,Rasulullah SAW menjelaskan, ''Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi.
Yang satu menyeru, 'Ya Tuhanku,karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah'.Yang satu lagi menyeru, 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya'.''Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT.
Orang yang bakhil & kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya.
Sebab, menginfakkan/belanjakan harta akan memperoleh berkah,
dan sebaliknya menahannya adalah celaka.
Beberapa keutamaan bagi orang yang mengamalkannya :-
1.Mengundang datangnya rezeki.
Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Alquran bahwa
Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ''Pancinglah rezeki dengan sedekah.''
2.Sedekah dapat menolak bala.
Rasulullah SAW bersabda, ''Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.'‘
3.Sedekah dapat menyembuhkan penyakit.
Rasulullah SAW bersabda,''Obatilah penyakitmu dengan sedekah.'‘
4.Sedekah dapat menunda kematian & memperpanjang umur. Rasulullah SAW bersabda, ''Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.''
Mengapa semua itu bisa terjadi?
Sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang bersedekah.
Kalau Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).Kekuatan & kekuasaan Allah jauh lebih besar
dari persoalan yang dihadapi manusia.
Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya,
masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai sedekah..?
Wallahu a'lam bis-shawab.
By : Suprianto - Republika
Baginda menepis-nepis lengan bajunya agar belalang jatuh.
Lantas Allah SWT berfirman, ''Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?''
Nabi Ayub AS menjawab, ''Ya benar, wahai Sang Pencipta! Demi keagungan-Mu apalah makna kekayaan tanpa keberkahan-Mu.'' Kisah di atas menegaskan betapa pentingnya keberkahan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah SWT. Kekayaan tidak akan membawa arti tanpa ada keberkahan. Dengan adanya keberkahan, harta dan rezeki yang sedikit akan bisa terasakan mencukupi. Sebaliknya, tanpa keberkahan rezeki yang meskipun banyak akan terasakan sempit dan menyusahkan.
Agar rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita menjadi berkah, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah.
Rasulullah SAW bersabda, ''Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.''
Dalam hadis lain,Rasulullah SAW menjelaskan, ''Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi.
Yang satu menyeru, 'Ya Tuhanku,karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah'.Yang satu lagi menyeru, 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya'.''Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT.
Orang yang bakhil & kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya.
Sebab, menginfakkan/belanjakan harta akan memperoleh berkah,
dan sebaliknya menahannya adalah celaka.
Beberapa keutamaan bagi orang yang mengamalkannya :-
1.Mengundang datangnya rezeki.
Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat Alquran bahwa
Dia akan membalas setiap kebaikan hamba-hamba-Nya dengan 10 kebaikan. Bahkan, di ayat yang lain dinyatakan 700 kebaikan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, ''Pancinglah rezeki dengan sedekah.''
2.Sedekah dapat menolak bala.
Rasulullah SAW bersabda, ''Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah bisa mendahului sedekah.'‘
3.Sedekah dapat menyembuhkan penyakit.
Rasulullah SAW bersabda,''Obatilah penyakitmu dengan sedekah.'‘
4.Sedekah dapat menunda kematian & memperpanjang umur. Rasulullah SAW bersabda, ''Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.''
Mengapa semua itu bisa terjadi?
Sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang bersedekah.
Kalau Allah SWT sudah mencintai seorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah (baik).Kekuatan & kekuasaan Allah jauh lebih besar
dari persoalan yang dihadapi manusia.
Lalu, kalau manfaat sedekah begitu dahsyatnya,
masihkah kita belum juga tergerak untuk mencintai sedekah..?
Wallahu a'lam bis-shawab.
By : Suprianto - Republika
Subscribe to:
Posts (Atom)